BELAJAR DARI NABI MUSA TENTANG APM DAN ZI

Gunung Sugih | www.gunungsugih.go.id
Senin 22 November 2021 kegiatan rutin warga Peradilan Agama adalah apel pagi, disamping sebagai pembuka kegiatan awal minggu, apel juga merupakan sarana untuk memberikan amanat, dan pembinaan langsung dengan tema yang berganti-ganti yang di sampaiakan oleh narasumber yang berganti-ganti pula sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan oleh Kepala Sub Bagian Kepegawaian, mulai dari ketua Pengadilan Agama Gunung, Wakil ketua Pengadilan Agama Gunung, Hakim, Panitera dan sekretaris, Pada minggu ini apel disampaikan oleh Hakim C.2 Pengadilan Agama Gunung Sugih Kusnoto S.H.I.,M.H.
Dalam apel tersebut Kusnoto S.H.I.,M.H. mengangkat sebuah kisah tentang nabi musa dan anak dari Nabi Syuaib di sampaikan bahwa Setelah jauh meninggalkan negeri Mesir sampailah Musa di suatu daerah di Madyan perbatasan Hijaz dan Syam, Di sana Musa melihat banyak orang berkumpul, antri mengambil air di sebuah sumur termasuk dua orang perempuan dan kambingnya ngantri menunggu giliran mendapat air. Kisah ini diabadikan dalam surat Al-Qashas ayat 23:
Setelah mendengar kesusahan yang dialami dua wanita itu, bergolaklah hati musa untuk membantu keduanya. Musa bangkit berdiri mengambil air dari sumur itu dengan susah payah dan penuh kerja keras, lalu diminumkan Nya kepada kambing-kambing kedua anak perempuan itu.
Kemudian setelah bersusah payah mengambil air dan diminumkan kepada kambing-kambing dari 2 (dua) wanita itu, Musa menuju ke tempat yang agak Teduh lalu duduk untuk melepaskan lelahnya. Kisah Musa membantu dua orang wanita itu diabadikan Al-Qashash ayat 24 dan akhirnya Kedua anak perempuan itu dengan pertolongan Musa dapat pulang ke rumahnya lebih cepat dari sebelumnya, sehingga bapaknya merasa heran, lalu bertanyalah ayahnya apa penyebab mereka agak cepat pulang kali ini.
Mendengar cerita anak-anaknya, Nabi Syuaib mengundang Nabi Musa untuk bertemu Setelah sampai anak perempuan itu ke dekat Musa dengan malu-malu ia berkata. "Saya diutus bapak untuk memanggil mu agar engkau sudi datang ke rumahku karena bapak telah berhutang budi atas kebaikanmu yang telah menolong kami."
Kemudian Nabi Musa di angkat oleh Nabi Syuaib menjadi Penggembala kambing-kambing dan diangkat menjadi Menantu Nabi Syuaib A.S.
Dari kisah tersebut dapat diambil hikmah bahwa sebagai Pegawai, Abdi Negara dan Pelayan Masyarakat harus bekerja dengan prinsip Al-Qowi (Bekerja keras) dan Al-Amin (Amanah/berintegritas) aspek Al-Qowi (Bekerja keras), tersebut menggambarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh sesuai dengan standar yang telah di tetapkan, standar tersebut merupakan batas minimal yang harus di kerjakan kalaupun harus bekerja lebih itu lebih baik. Sedangkan aspek Al-Amin (Amanah/berintegritas) menuntut Pegawai, Abdi Negara dan Pelayan Masyarakat untuk berintegritas, dalam menjalankan tupoksi, menghindari perbuatan-perbuatan curang yang dapat merugikan baik masyarakat maupun lembaga, Dalam lembaga kita Al-Qowi merupakan APM atau standar pelayanan sedangkan Al-Amin adalah ZI atauintegritas pelayanan
Setelah kedua aspek tersebut di lakukan dengan baik maka apresiasi dan penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan akan otomatis kita peroleh sesuai dengan peribahasa Usaha tidak akan pernah menghianati hasil. (By. i'am)





